Langit Segi Empat

Oleh: Ikram Salim

Penulis dan Photografer Jurnalis

 

Suara orang-orang di jam 6 pagi mengakhiri tidur panjang yang aku mulai beberapa menit setelah Isya. Hawa dingin masih terasa menjalari wajah dan ujung jari kakiku. Dari balik kerai, tampak beberapa anak-anak yang bersahut sambil berlari. Aku ingin kembali ke tempat tidur dan melanjutkan mimpi, tapi secepat kilat ku ingat bahwa ada tugas yang menanti.

Usai sarapan dan ganti pakaian, segera kupanaskan motor renjesku. Perjalanan menuju tempat kerja membutuhkan waktu 25 menit dari rumah. Tapi, aku bukan pekerja kantoran, melainkan pekerja kasar di asrama Halteng, di Kelurahan Gambesi menjadi pilihan terakhirku mengejar mimpi bertoga.

Aku tawarkan diri ikut kerja sebagai tukang cat, bayarannya dihitung perhari 100 ribu. itu sebabnya kami harus datang lebih awal dari anak sekolah karena jam kerja dihitung dari jam 7 sampai jam 5 sore, tidak boleh terlambat. Alasan lainnya, konsultan pengawas kami orang bule, jika terlambat gaji jadi korban.

Maklum, asrama itu dibangun oleh perusahan tambang Weda Bay Nikel (WBN). Kerja serabutan harus aku lakoni, mulai memetik cengkeh hingga kerja kasar lainnya sebab, aku dihadapkan biaya wisuda yang sudah injure time.

Sabtu itu menjadi hari terakhirku bekerja, ada peristiwa pilu yang menimpah. Malamnya, sekembali dari tempat kerja, aku langsung tidur melanjutkan separuh mimpi yang buyar karena suara bising orang-orang.

Tiba-tiba, ada yang memanggil. ”Ik, adi so pigi pesta, dusu dia la pangge pulang (Ik, Adi sudah pergi ke pesta, susul dia dan suruh pulang),” kata mamaku setelah daun pintu kamar kubuka lebar.

Dengan setengah hati aku berusaha memenuhi kekhawatiran ibuku, matanya tampak gelisah. Lalu bersama beberapa teman di kampung kami jalan kaki menuju kampung sebelah tempat acara dilaksanakan.

Dari kejauhan suara musik terdengar sayup-sayup, diisi canda kami terus menapaki jalanan gelap bak hutan belantara. Maklum, perbatasan dua kampung itu belum ada pemukiman. Acara itu dihelat salah satu partai, lokasinya di tepi pantai Bobane Ici, Dorpedu.

Tampak raut-raut bahagia bercampur keringat, tentunya bermacam aroma yang kami hirup, saling senggol-senggolan, ada pula yang merayu manja pasangan jogetnya. Saat suara musik baru memulai seisi tenti atau tenda langsung penuh, tanpa komando mereka sudah berjejer saling berhadapan.

Sesekali suara teriak pasangan muda-mudi itu menghantam langit-pangit tenti. Tinggal aku sendiri, berdiri disudut menatap orang-orang yang seperti kerasukan massal.

Tak jauh tampak dua pria berdiri di belakang tenti. Kedip lampu disko sesekali mengenai wajah mereka, matanya seperti melirik posisiku. Kali ini filingku benar, tatapan tajam jatuh tepat wajahku itu ternyata memiliki arti.

Lalu petaka itu datang, sebuah pukulan menghantam leher kananku. Serempak aku nyaris tersungkur. Belum sempat berbalik pukulan kedua mendarat tepat di bibir, beradarah. Lalu, berubalah suasana menjadi kerumunan tak keruan. Pria yang berdiri di remang-remang tadi berubah menjadi lawanku yang tak pernah aku undang.

Baku pukul antara kami berdua berlanjut hingga ke dalam kerumunan orang-orang. Beberapa rekanku turut membantu menyumbang satu dua pukulan dan tendangan. “Asiiik, bage dia (pukul dia),” teriak suara dikerumunan yang tak kukenal.

Petugas keamanan yang dipakai orang partai langsung bergerak mengamankan pria tersebut ke rumah pemilik hajatan malam itu. Tiga anggota Polisi bersenjata lengkap langsung menggiringnya ke rumah dengan paksa.

Sementara, aku yang sudah lebih dahulu kabur saat polisi datang, memantau dari jauh. Emosiku makin menjadi-jadi, beberapa kali sudah coba lerai tapi darah yang mengalir di bibir seperti pelatuk emosi. Aku mencarinya, kulihat kerak bajunya ditarik oleh Polisi, mereka nyaris berciuman, tapi Polisi itu murka entah karena bau mulutnya atau karena hal lain, yang pasti bukan itu yang kupikirkan.

Seketika aku meloncat menuju tempatnya dan melepas satu pukulan mentah tepat diwajahnya, tangan Polisi di kerakpun lepas, kini giliranku yang jadi amukan Polisi yang sudah betul-betul murka.

Dia lari ke arah pantai sementara aku dikejar Polisi tapi berhasil kabur untuk kali keduanya, pesta pun berakhir. Sumpah serapa sambung-menyambung dari mulut sejumlah pemuda karena pesta berakhir sebelum mereka puas kerasukan.

Insiden ini berlanjut, si pria berlari ke rumahnya lalu kembali ke lokasi tak jauh dari tempat acara. Kali ini pertikaian berlanjut di jalan raya, dibawah tiang lampu jalan tua, peristiwa nahas itu terjadi. Tiba-tiba dia muncul dari kejauhan, menuju ke arahku, demikianpun aku, kami seperti sinema India diakhir laga.

Semakin dekat langkah semakin di percepat. Lalu, tangannya langsung menghunus pisau tepat di bagian perut, aku menghindar dan lanngsung berlari jauh setelah tahu ia membawa pisau.

Sementara dua temanku, Anto dan Jivan belakangan muncul dari kegelapan. Ia berbalik menyerang keduanya. Lalu, pisau berwarna emas itu jatuh di sudut kiri perut temanku. Matanya melotot tajam ke temanku yang berdiri tanpa gerakan melawan.

Sejurus kemudian ia berbalik menyerang temanku yang lainnya, sementara aku belum berani mendekat. Untung, serangan keduanya hanya mengenai sikut tangannya. Sementara aku lihat Anto jatuh jatuh tersungkur, kedua tangannya menutup perut tempat pisau badik bersarang.

Baju putihnya seketika berubah warna darah. Lalu, tiba-tiba satu temanku lainnya muncul, kamipun kompak menyerangnya, dua tiga pukulan mendarat di bagian wajah dan badannya, ia pun roboh di atas aspal yang dingin.

Kali ini bukan lagi tangan, benda tumpul hingga bambu bendera partai jadi tangan ketiga kami. Seluruh emosi kami lepaskan diatas tubuhnya yang telentang di aspal. Dibawah lampu jalan remang-remang, bergelimang darah milik dua pria itu.

Peristiwa penikaman begitu cepat terdengar, tak lama, sebuah mobil penumpang parkir di dekat temanku yang tampak lemas. Ia berada di pangkuan temanku yang lain. Matanya menoleh di sekeliling, hanya satu kata yang terucap, tolong.

Suasana semakin mencekam, sejam setelah peristiwa berlalu baru aku memahami ucapan ibuku. Oh malangnya nasibku, toga yang ku idamkan bakal sirna, perjuangan sia-sia. Aku rebahkan tubuh diatas kasur, hanya ada penyelasan yang terngiang-ngiang, tidak mungkin aku menutup mata.

Sebab, besok adalah hari pertama ujian ini bermula. Semuanya bercampur-aduk, lelah seharianku dibayar dengan petaka yang sudah ku tahu akhirnya, dipenjara pastinya.

Peristiwa ini menjadi viral melalui bibir ke bibir. Seminggu aku mengurung diri di kamar sambil menunggu waktu sholat. Aku pasrah, jika ini ujianmu. Aku pasrah, bila dipanggil sarjana napi. Akhirnya, hari yang sudah kunanti itu datang, aku ditahan, diamankan usai diperiksa penyidik.

Suara kunci dan slot pintu terali tahanan seperti letusan Gamalama di awal 2011. Nafasku pelan tapi denyut jantung seperti dua pelari merebut posisi utama di garis finis. Tamat riwayatku!.

Kepala menyahut hati, sementara hati gunda gulana saat mata melihat tempat berkumpulnya kaum durjana, ngeri. Upaya meredam jiwaku dengan sejumlah doa sudah ku cuba, tak mempan.

“Kasus apa ini,” tanya tiga pria berbadan kekar, bertato dari balik terali. Kali ini memang betul-betul tamat. “Kasus baku lai (kasus perkelahian), ”jawab penyidik. Tiga pasang mata menatap bersamaan dari ujung kaki hingga kepala.

Tidak percaya, jika wajah guyon ini adalah pelaku penganiayaan. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara lantang dari sela-sela terali. “Dia itu yang pukul pe kita (dia yang pukul saya),” teriak suara yang tak asing ditelingaku. Setelah pintu terali terbuka aku lalu di suru berjalan jongkok sampai ke ruangan berdiameter 4×4 tanpa atap, hanya ditutupi terali dari atas. Satu-persatu mengintrogasi sesekali melepas pukulan kemayu di rusuk. “Uuhhhh, ampun sakit,” teriakku terisak.

Mataku menatap ke langit yang berbentuk segi empat jika dilihat dari ruangan yang oleh para tahanan menyebutnya karantina bagi penghuni baru. Setelah mendapat hadiah beberapa pukulan, ada beberapa tahanan lainnya tampak berbaik hati, mereka mengajakku bercerita tepatnya mengintrogasi latar belakangku.

Dua bulan mondok di Pasantren At-Thauba

Aku duduk lesuh dibawah bayang-bayang terali, terik pukul 2 sore tak terasa. Wajah masih tetap menatap langit sembari menghitung terali, cahaya matahari menghujani matapun aku tak peduli. Seribu kata penyelesan seperti mengepung kupingku. Lalu, ada pria menghampiri menepuk sambil memintaku sabar.

Dia menunggu jawaban. Sambil menunduk aku paksakan bicara. Yang keluar dari kerongkonganku Cuma bisikan lirih yang bergetar karena menyesal, “Emmmm…terima kasih kawan,” suaraku layu tercekat. Tanganku dingin. Mata berkaca-kaca. Dalam sendiriku itu kadang aku bermimpi tinggi dan membebaskan imajinasiku membumbung tinggi.

Seketika ku ingat sepenggal lirik lagu “oh malangnya nasibku” yang biasa di nyanyikan artis genta buana. Orang tuaku belum tahu kalau namaku kini tercatat dalam absen tahanan Polres Ternate. Di barisan akhir terpampang namaku.

Ibu maafkan putra sulung calon sarjanamu ini, sekali lagi maafkan. Sehari berlalu, hanya pakaian itu yang kupakai saat dibekuk Polisi bak koruptor bank century. Keesokan hari baru pesanan pakaianku tiba, aku seperti anak rantau pindah kosan.
Dua hari setelahnya aku mulai beradaptasi dengan makan seadanya, tidur secukupnya, dan lebih penting sholatku tak pernah bolong. Aku perlahan menemukan ketentraman meski tidur berdesakan. Di ruang tahanan itu terdapat 5 blok, dua blok untuk kamar laki-laki dan 2 lainnya untuk perempuan dan satunya musollah.

Di dekat pintu masuk dibuat ruang kecil yang di bagi dua, itu tempat menaruh tong sampah. Di areal sekitar itu biasa menjadi tempat kami bermain catur sambil menonton tv di ruang penjagaan. Selain ada peraturan tertulis dari kepolisian ada juga aturan lisan yang di rawat turun temurun oleh siapa saja yang di bui, seperti tahanan baru wajib plontos, tidur di karantina sampai jatah makanan dibagikan kepada senior hingga menjadi alarm saat shubuh.

Di balik beberapa titik tertempel doa, mulai masuk keluar kamar mandi, doa makan dan doa tidur. Doa masuk dan keluar kamar mandi baru aku hafal disitu.

Saat waktu shalat tiba kami pasti bingung, bingung siapa yang jadi imam. Kadang kami di imami Polisi itupun hanya di shif tertentu. Lalu, tak berselang lama seorang pria, usianya kira-kira diatas 50 tahun menjadi “santri” baru di situ. Namanya Hj Edi-begitu kami memanggilnya, dialah yang menjadi imam tetap kami kecuali jika ada jamah yang dibawah berdakwah di pondok.

Jumat malam menjadi hari yang amat pilu dalam hidup kami. Sebab, untuk mengganti shalat jumat kami yang tidak bisa dilaksanakan karena kondisi ruangan sehingga malamnya dilanjutkan dengan renungan.

Tiga hari mondok barulah aku bertemu dengan pengasuh pondok – seorang polisi berpangkat Bripka, kami memanggilnya Ustad Bakri. Saat itu kami hendak salat Maghrib. Tiba-tiba bunyi suara rantai terali, kami yang sudah siap di Mussalah menolek ke arah pintu. ”Assalamualaikum, ”kata pria yang muncul dari pintu mengenakan jubah putih dengan wajah tak asing. Pria ini sering mondar-mandir di kantor Polisi saat aku di periksa dulu ”gumamku.

“Semua sudah siap?, ”tanyanya sambil meminta dari kami untuk adzan. Semua menolehku, ustad lantas mempersilahkanku adzan. Memang aku sering menjadi muadzin. Aku semakin gugup, takut suara berhenti sebelum alunan sedihnya keluar.

Kali ini berhasil sampai lafas terakhir. Usai adzan, Ustad lantas mengambil posisi di bagian imam. Lalu, takbirnya pelan, diiringi dengan suaranya yang lembut, membuat kami semua larut dalam lantunan ayat yang dibacanya perlahan-lahan. Alfatiha-nya menikam kami satu-persatu.

Dalam beberapa helaan nafasnya saja aku bagai tersengat tawon, tubuhku menggigil. Setiap bait ayatnya menggiringku ke masa silam. ”Betapa besar dosa hambamu ini terhadap orang tuaku, Ya Allah, ”gumamku beruarai air mata. Hingga sujud terakhirku, terasa panas setiap helaan nafas, lantai tempat kuletakan dahi berubah berair.

Aku tanamkan dalam-dalam sujudku dihadapannya, mengecil bagaikan debu yang terhempas angin meninggalkan jagat dunia. Tangisku kian menjadi-jadi. “Oh, ibu betapa durjananya anakmu ini, maafkanlah aku, ”ucapku dalam hati. Kali ini Ustad menangis saat membaca doa, membuat tangisan kami pecah dalam keheningan.

Salah seorang perempuan bahkan menangis menjadi-jadi. Suara penyelesan sampai ke langit-langit ruangan yang hanya berjarak tak kurang dari 1 meter. Di satu kesempatan, laki-laki berkulit sawo matang ini menjelma menjadi orang tua kami dan guru kami. Dengan wajah berseri-seri, ia melontarkan sebuah kata pembuka, ”Kalian adalah orang-orang yang di pilih Allah, ”katanya tegas sambil menatap mata kami satu persatu, ia seakan menunggu jawaban atau protes dari kami.

Sayangnya, ketakutan atas perkara yang menimpah menjadikan kami mahluk takluk dan mangguk di balik terali. Apa yang ia maksudkan bahwa gerombolan bertato, berwajah sangar-sangar ini adalah orang-orang pilihan, apa ia tidak salah?. ”Sebab, di luar kalian terlalu sibuk dengan dunia, padahal Allah sangat rindu kalian semua, dengan cara ini ia bisa memeluk kalian setiap hari, ”katanya.

Aku semakin paham, bahwa dibalik ruangan berhimpitan ini tidak ada tugas lain selain Shalat. ”Percayakan kepada Allah, dia satu-satunya penolongmu, bukan penyidik, bukan jaksa dan bukan hakim “. Arti dari doa Nabi Ibrahim AS ini makin membuatku betah di sini.

Sekian lama menjadi santri, akhirnya aku kembali ke rumah, dengan berat hati aku meninggalkan ruangan yang telah mengajarkanku iklas. Sampai akhirnya, gelar sarjana yang ku tunggu datang, bukan main harunya sampai aku menolak orang lain menaruh toga di kepala selain orang tuaku.

Aku tahu lepas ini aku harus bersusah payah mencari pekerjaan tapi setidaknya jubah hitam berkalung piagam kampus dan toga ini sudah membuat raut mereka berseri-seri bercampur haru.

Sampai akhirnya akupun menjadi guru honorer di salah satu SMA tanpa di gaji selama setahun sebelum akhirnya menjadi wartawan di surat kabar harian Malut Post. Dulu, aku melihat langit segi empat di balik terali. Bayang-bayang terali jatuh diantara wajahku, aku bermimpi bisa bisa menjadi penulis dan kini perlahan mulai ku wujudkan.

Jangan pernah remehkan impian. Sebab, Allah Maha Mendengar. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh pasti berhasil. Jangan pernah salahkan takdir, sebab ada hikma yang sudah Allah siapkan tinggal kau mengambilnya. (***).

suaramu.co
Media Online Maluku Utara
https://www.suaramu.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *