Menyelisik Implementasi Kota Jasa Berbasis Agro-marine di Kota Tidore Kepulauan

           Faizal Banapon, ST., MT

            Konsultan Perencanaan,        Pengembangan Wilayah dan Kota

Jum’at sore tanggal 15/02/19, dilakukannya suatu diskusi publik dengan topik yang buat saya sebagai praktisi Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah dan Kota cukup menarik perhatian. Tentu saja diskusi itu memancing saya untuk memberikan opini.

Poin dari diskusi tersebut adalah mempertanyakan kinerja pencapaian Visi Pemerintah Kota (Pemkot) Tidore Kepulauan (Tikep) Periode 2016 – 2021 saat ini. Visi tersebut yaitu “Terwujudnya Kemandirian Kota Tidore Kepulauan sebagai Kota Jasa Berbasis Agro-Marine”.

Dari Visi tersebut terlihat bahwa agro-marine menjadi perhatian utama dalam pengembangan wilayah Tikep lima tahun ke depan (tersisa dua tahun). Dari gagasan ini, perlu diapresiasi Pemkot yang cukup futuristis dan menetapkan tujuannya yang tepat sesuai dengan keadan geografis Tikep. Dengan berfokus pada pengelolaan sumber daya pertanian, kelautan, dan perikanan.

Kemudian apa yang dimaksud dengan agro-marine? Saya coba memberikan gambaran dengan definisi agro-marine yang saya parafrasakan dari berbagai sumber. Sebab istilah tentang agro-marine sejauh saya tahu, tidak memiliki pengertian yang jelas.

Agro-marine adalah suatu konsep pengembangan wilayah berbasis industri yang berfokus kepada pengelolaan sumber daya utama pertanian, kelautan, dan perikanan dari hulu hingga hilir dengan meminimalisir kerusakan lingkungan.

Tujuan dari konsep pengembangan agro-marine adalah untuk memberikan dampak positif yang luas. Baik kepada wilayah Tidore Kepulauan, maupun kepada masyarakatnya.

Dampak positif tersebut berupa peningkatan investasi di sektor pertanian, kelautan dan perikanan; terjadinya diversifikasi produk pertanian, kelautan dan perikanan; terciptanya lapangan kerja baru; kesejahteraan masyarakat; peningkatan daya beli masyarakat; dan lain sebagainya.

Mengingat kondisi geografis wilayah Tikep yang bercirikan kepulauan, yaitu terdiri dari sebelas pulau yang dikelilingi lautan, dan memiliki lahan pertanian yang cukup luas.

Dalam diskusi publik tersebut, Pemkot yang diwakili Dinas Perikanan dan Kelautan coba memaparkan beberapa usaha dan kemajuan di sektor perikanan dan kelautan. Di antaranya adalah keberhasilan tambak udang Vename, kemudian fokus pengembangan pada subsektor perikanan tangkap dan budidaya, serta beberapa capaian lainnya.

Dari Dinas Pertanian, menjelaskan meskipun diakui masih kekurangan infrastruktur untuk mendukung kegiatan perniagaan komoditas pertanian. Tapi ada hal-hal kongkrit yang dilakukan Pemkot seperti membagikannya kendaraan roda tiga untuk mendukung para petani dalam aktifitas pengangkutan dan distribusi hasil pertanian.

Sektor-sektor Unggulan

Berdasarkan analisis sektor basis tahun 2018, menggunakan analisis Locatien Quotient (LQ) dengan Provinsi Maluku Utara sebagai pembandingnya. Diketahui bahwa dari ke 17 sektor dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terdapat tujuh sektor yang merupakan sektor basis atau sektor unggulan.

Ketujuh sektor tersebut adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan; pengadaan listrik dan gas; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; konstruksi; jasa perusahaan; administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib; dan terakhir sektor jasa pendidikan.

Ketujuh sektor tersebut pada lima tahun terakhir ini (2012 – 2016) merupakan sektor basis (leading sector) di Kota Tidore Kepulauan. Sektor-sektor tersebut memberikan dampak yang positif terhadap ekonomi Kota Tidore Kepulauan.

Selain analisis LQ yang bersifat makro di atas, perlu juga dilihat analisis LQ pada tingkat yang lebih mikro. Khususnya untuk menilai potensi pada subsektor dalam sektor pertanian. Hal ini penting untuk menjadi salah satu acuan pengembangan agro-marine di Kota Tikep.

Dari catatan hasil analisis LQ pada level mikro tahun 2018, terdapat beberapa subsektor yang unggul dan tersebar di delapan kecamatan di Kota Tidore Kepulauan. Subsektor tersebut adalah palawija yang tersebar di Kecamatan Tidore Utara, Oba Selatan, Oba Utara dan Oba Tengah.

Kemudian subsektor holtikultura yang juga tersebar di Kecamatan Tidore Utara, Oba Selatan, Oba Utara dan Oba Tengah; subsektor perkebunan yang tersebar di Kecamatan Tidore Utara, Oba Selatan, dan Kecamatan Oba.

Subsektor perikanan yang tersebar di Kecamatan Tidore Selatan, Tidore Utara, Oba Utara; dan terakhir, subsektor peternakan yang tersebar di Kecamatan Tidore, Oba Utara, dan Kecamatan Oba Tengah.

Bisa dikatakan sector dan subsektor basis tersebut bisa menjadi kekuatan untuk pengembangan agro-marine di Kota Tidore Kepulauan. Meskipun hasil analisis yang sekilas dibahas di atas tentulah membutuhkan usaha keras dari pemerintah kota untuk mewujudkan gagasan agro-marine sebagai konsep pengembangan wilayah.

Selain itu Pemkot Tikep juga memiliki keterbatasan pada anggaran APBD yang memang tidak memungkinkan hanya memfokuskan pada satu urusan saja. Dan urusan lainnya menjadi terbengkalai. Pada sisi lain pekerjaan rumah pemerintah kota begitu banyak bahkan nominalnya melebihi anggaran APBD.

Pada kondisi ini, Pemerintah dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif. Dalam perencanaan dan pengembangan daerah, sumber anggarannya tidak hanya difokuskan pada penggunaan APBD. Tetapi juga bisa memaksimalkan sumber-sumber anggaran lainnya.

Lemahnya Faktor-faktor kunci

Dari sektor basis di atas yang menjadi faktor sumber daya alam, tentunya perlu melihat juga faktor ‘kunci’ lainnya yang harus dimaksimalkan. Faktor-faktor kunci tersebut adalah Sumber Daya Manusia (SDM), investasi, akses pasar, teknologi produksi, dan penelitian dan pengembangan (Litbang).

Harus diakui faktor-faktor kunci di atas masih menjadi kelemahan Tidore Kepulauan. Untuk mengembangkan agro-marine pastilah membutuhkan SDM yang terampil (skilled labor) yang dapat mengolah hasil pertanian, kelautan, dan perikanan menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi yang tinggi (produk jadi).

Selain itu investasi pada segala sektor terutama pada sektor pertanian, kelautan, dan perikanan juga dibutuhkan untuk menambah modal baru yang masuk. Dengan investasi yang masuk tentu akan membuka lapangan kerja baru. Selain itu dengan masuknya investasi, memungkinkan masyarakat belajar dan mendapatkan skill baru.

Untuk semakin meningkatkan perkembangan sektor-sektor ekonomi, tentu membutuhkan akses pada pasar baru. Bukan hanya mendistribusi produk ke pasar lokal, bila perlu produk lokal Kota Tikep diekspor ke daerah lain bahkan hingga ke luar negeri.

Penguasaan teknologi untuk proses produksi juga penting. Agar supaya proses pengelolaan hasil pertanian, kelautan, dan perikanan lebih efisien. Selain itu penguasaan teknologi digital dan berbasis online menjadi kebutuhan hari ini.

Kemudian perlunya penelitian dan pengembangan untuk mengembangkan agro-marine di Kota Tidore Kepulauan menjadi suatu kebutuhan. Perlu bekerja sama dengan institusi pendidikan dan berbagai stakeholder terkait dalam proses pengembangan wilayah dengan konsep agro-marine.

Dari beberapa faktor yang disebutkan di atas, bisa juga dijadikan indikator buat publik untuk mengukur sudah sejauh mana Kota Tidore Kepulauan menuju kota jasa berbasis agro-marine.

Meskipun begitu jangan juga menutup akal sehat. Sebab, proses perencanaan dan pengembangan wilayah sangatlah komprehensif dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar bukan sehari semalam.

suaramu.co
Media Online Maluku Utara
https://www.suaramu.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *