Cuaca Ekstrim, Nelayan  Taliabu Selatan Tidak Bisa Melaut

BOBONG,SuaraMu.co – memasuki bulan suci Ramadhan tahun ini, nelayan di Pesisir Pantai Selatan Kabupaten Pulau Taliabu (Pultab) ditantang ombak besar. Kondisi ini menyebabkan sejumlah nelayan tradisional daerah ini memilih untuk tidak beraktifitas dilaut.

Walhasil, kebutuhan ikan bagi warga dipesisir pantai selatan pun sulit terpenuhi. Agung aufat (31), salah satu warga Kecamatan Tabona, kabupaten Pulau taliabu mengatakan, ombak besar yang sudah menjadi langganan warga pantai selatan mulai dari pertengahan hingga akhir tahun tahun seperti  yang baru mengguncang warga pesisir selatan sekarang ini  adalah hal yang sudah biasanya sejak dahulu.

Kondisi cuaca laut seperti ini sering berimbas terhadap stok ikan yang disediakan para nelayan, juga pendapatan nelayan sebab para nelayan di taliabu rata – rata masih menggunakan alat penangkapan ikan tradisional.

’’dari dulu-dulu kalau sudah ombak begini torang yang di selatan ini susah mau dapat ikan untuk makan sehari-hari karena nelayan pun tidak ada yang berani melaut dengan alat seadanya seperti saat ini’’ katanya ketika dihubungi Kamis(17/5/2018).

Hal senada dibenarkan salah satu aparat pemerintah desa Tabona, Yahya Nadir. Menurutnya gelombang maupun ombak besar yang setiap tahun telah menjadi langganan warga di pesisir selatan taliabu sudah harus mendapat perhatian serius pemerintah daerah, terutama Dinas Kelautan dan Perikanan  terkait bantuan perikanan.

Dia beralasan, macetnya aktifitas nelayan dan persediaan stok ikan di kala ombak besar di pesisir pantai selatan pulau taliabu seperti sekarang ini disebabkan belum tersedianya armada tangkap perikanan bagi masyarakat.

Sehingga dengan alat tangkap seadanya seperti sekarang ini yang masih 97 persen menggunakan perahu membuat para nelayan tidak bisa beraktiifitas dikala musim ombak.

“apakah torang dipantai selatan akan terus seperti begini terus ataukah bisa lebih maju lagi dibidang kemaritiman itu sangat bergantung kepada pemerintah daerah, terutama dinas perikanan,” cetusnya.

“jadi dalam program peningkatan dan kesejahteraan nelayan. Jika nelayan kita terus dibiarkan cari ikan menggunakan perahu – perahu seadanya, maka so pasti nasib nelayan kita akan begini – begini saja,” keluh Yahya.

Sementara itu, untuk tahun anggaran 2018 diketahui, Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Pulau Taliabu saat ini tengah memprioritaskan bantuan alat tangkap berupa bodi fiber untuk para nelayan. Program ini diharapkan dapat dijalankan sesuai dengan kebutuhan.

‘’dan kalau mau maju, bantuan yang akan disampaikan di masyarakat jangan asal kase saja, tapi harus berdasarkan kebutuhan dan profesi masyarakat. Jangan sampe yang benar-benar nelayan tidak diberi bantuan, sementara yang bukan nelayan sama sekali diberikan alat tangkat seperti body fiber disertai mesinnya.  bisa apa kalau seperti itu,” cetusnya. (hk/red).

suaramu.co
Media Online Maluku Utara
https://www.suaramu.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *