Dari Kartini Sampai Perempuan Dalam Arus Infokom

Oleh : Saidatul Afifa

(Kabid Eksternal KOHATI HMI Cabang Ternate)

(Menjemput 21 April 2018)

 

Tentang Lingkungan Hidup R.A. Kartini

Raden adjeng kartini namanya sosok perempuan yang lahir pada tanggal 28 Rabiulakhir tahun jawa 1808 bertepatan pada tanggal 21 April 1879 di Jepara , Jawa Tengah. Raden adjeng kartini seorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan jawa ia adalah anak dari Bupati Jepara Bapak R.M. Adipati Ario Sosroningrat.

Al kisahnya Raden Adjeng Kartini hidup dalam keluarga terpandang dan sangat memegang kuat adat yang berlaku saat itu asal keluarga terpandang dan beradat inilah Raden Adjeng kartini tidak diberikan kebebasan oleh keluarganya termasuk tidak diizinkan untuk keluar ke mana-mana padahal banyak teman-teman berkebangsaan eropa masa itu sangat mengharapkan kartini diberikan kemerdekaannya.

Di sinyalir bahwa sahabat-sahabat orang eropa tak henti-hentinya berilhtiar agar kartini bisa merasakan dunia luar, maka waktu sudah berumur 16 tahun ( pada tahun 1895), bolehlah ia melihat dunia luar lagi.

Ada suatu kejadian yang dialami kartini masa itu, yang tiada boleh tidak meninggalkan bekasnya dalam hati sanubarinya, yang mengingatkan padanya bahwa dia lain daripada anak gadis eropa, lain dari laki-laki, bahwa nasib anak gadis jawa ialah menurutnya saja, cuman satu saja tujuan hidupnya ialah nikah dengan orang yang tidak dikenalnya.

Dalam kehidupan kartini disekelilingnya ia melihat banyak yang jahat-jahat saja tidak ada orang yang memperlihatkan kepada dia barang yang bagus dan baik dengan kondisi lingkungan yang kurang baik inilah Kartini tidak suka bergaul dengan sembarangan orang.

Menurut kartini manusia itu hanya menertawakannya saja. Karena adat negerinya, dia tiada dapat mencari perlindungan kepada ibu bapaknya, kepada hati jiwa mereka, sebab itu dicarinya pelipur hatinya yang sangat menanggung itu di dalam buku sahabatnya yang diam, tiada suka berkata-kata itu.

Lama-kelamaan membaca buku itu menjadi nafsu baginya bahkan dijadikan buku olehnya itu sebagai sahabat setelah Kartini menyelesaikan pekerjaannya apa saja dibacanya mengerti atau tidak,

tidak diperdulikannya juga tidak menjadikannya putus asa semakin fokusnya kartini dalam membaca membuat ketika ia merasa tidak paham ia mengulanginya sekali lagi jika belum maka ia ditigakalikannya lagi.

Dengan pendek dapat dikatakan bahwa dizaman kartini masyarakat disekelilingnya sudah mulai tergoyang dari akarnya, yang tumbuh didalam tanah adat istiadat dan agama.

Demikian pulalah orang muda dizaman itu, karena orang tiada dapat dipisahkan dari masyarakatnya. Segala macam hak kebebasan perempuan dibatasi diwaktu itu perempuan tidak diperbolehkan berpelajaran dan tidak boleh berada diluar rumah, serta menduduki jabatan di dalam masyarakat bahkan sampai pada kemauan perempuan atas sesuatu tidak diizinkan.

Perempuan itu hendaklah bersedia-sedia untuk dikawinkan dengan pilihan orang tuanya Cuma itulah cita-cita yang boleh diangan- angankan oleh seorang perempuan bahkan agama saat itu juga dijadikan sebagai alat untuk berselisih, terpisah,dan saling menyakiti sehingga kartini berucap bahwa

Agama harus menjaga kita daripada berbuat, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas agama itu..”

dalam ucapan ini kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki.

Penyaksian kartini saat itu yang melihat bahwa perempuan pribumi di batasi dengan berbagai macam keputusan yang berlandas pada adat istiadat masa itu maka R.A. Kartini mulai merasa perlu bahwa adat seperti demikian mesti dirombak, olehnya itu R.A. Kartini mengirim surat kepada Nona Zeehandelar, 25 Mei 1899  beliau menyampaikan bahwa

“Adat kebiasaan negeri kami sungguh-sungguh bertentagan dengan zaman baru. Zaman baru yang saya inginkan masuk ke dalam masyarakat kami”.

Maksud dari surat ini adalah R.A. Kartini sangat mengharapkan agar perempuan pribumi mampu berpikir maju seperti perempuan Eropa masa itu dan menurut R.A. Kartini bahwa untuk dapat membongkar budaya seperti itu R.A. kartini berpandangan bahwa perempuan harus memiliki pemahaman pendidikan yang maju dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat.

Dengan usaha dan ikhtiar dari R.A. Kartini dalam membongkar kegelapan pemahaman adat istiadat yang berkembang di masyarakat masa itu akhirnya kegigihan Kartini berhasil mendirikan sekolah perempuan di semarang, surabaya,yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan derah lainnya nama sekolahnya adalah Sekolah Kartini.

Perempuan dalam arus infokom

“Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai ( Ananta Toer)

Dewasa ini peran perempuan masa kini semakin maju dan berkembang terbukti bahwa jumlah wanita karir di indonesia semakin meningkat dan berada pada urutan ke enam dunia.

Dalam melihat fenomena pendidikan perempuan saat ini layaknya bisa di sebutkan bahwa perempuan sudah setara dalam menganyam pendidikan bahkan tugas dan tanggung jawab perempuan masa kini bukan hanya dalam bidang pendidikan, tetapi lebih jauh, perempuan masa kini sudah ikut terlibat dalam karir ekonomi bisnis maupun politik bisa dikatakan perempuan dituntut untuk beradaptasi dengan zaman.

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri (R.A.Kartini)

Lewat sepenggal bahasa kartini diatas mampu dilihat dalam perkembangan saat ini juga paham feminisme mengaku untuk memperjuangkan hak perempuan tapi nyatalah malah menjauhkan perempuan dari kodratnya hal ini terjadi oleh karena sebagian besar kaum perempuan memandang feminisme adalah perempuan memiliki Hak penuh dan sama seperti apa yang dilakukan laki-laki tanpa adanya batasan.

Paham feminisme ini semakin lama semakin parah dan dapat menganggu emanisipasi yang diartikan sebagai kebebasan dalam memperoleh hak, bahkan yang bukan lahannya untuk merasa diakui. Ironisnya dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi

ini nampak jelas terlihat kemunduran perempuan dalam mengasah kemampuan kecerdasan serta kesetiaan membaca di waktu luang bisa di buktikan ketika mengamati perkembangan informasi di media sosial

yang dipergunakan oleh kaum perempuan sebagian besar adalah memamerkan pesona kecantikan, dan life style serta memunculkan sikap resah dan melepaskan kegaduhan secara personal disebabkan juga karena perempuan masa kini sudah banyak salah mengartikan emanisipasinya R.A.Kartini . P

adahal semestinya ruang itu bisa di manfaatkan oleh perempuan sebagai ajang berinteraksi ide serta lahan pendidikan dengan individu, kelompok maupun khalayak umum yang menggunakan media sosial.

Secara sadar bahwa perempuan yang sudah mendapatkan emanisipasi baik di bidang pendidikan, ekonomi dan politik bisa membangun kembali eksistensi perempuan secara baik  hal ini tidak bisa di bayangkan ketika R.A. Kartini masih hidup sampai saat ini beliau akan meneteskan air pemata oleh karena banyak kaum perempuan telah mensia-siakan perjuangan beliau.

Olehnya itu untuk mengingatkan kembali maka sudah saatnya perempuan untuk membongkar habis gelap terbitlah terang di era kekinian serta mempertahankan agar eksitensi terang bisa berlanjut menjadi cahaya perempuan yang abadi senada denga kata pramoedya ananta tier

“Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri”,

disisi lain untuk melawan arus zaman informasi dan komunikasi yang semakin laju ini maka di perlukan kesadaran agama, edukasi politik serta memperkokoh keimanan. (***)

 

suaramu.co
Media Online Maluku Utara
https://www.suaramu.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *