Impian Sophy di Balik Seragam Benny yang Kusut

Penulis : Rifaldi Sulaiman

(Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Khairun Ternate)

 

PAGI yang cerah, ketika bangun dari tempat tidur aku sering melihat keluar di balik jendela kamarku  untuk melihat indahnya mentari pagi dihasi dengan kicauan burung-burung yang merdu, selain itu terlihat orang-orang berjalan di depan rumahku dan pemandangan ini selalu dirasakan setiap hari, apalagi sekarang bertepatan dengan hari senin, semua orang beraktivitas penuh semangat  dan banyak sekali anak-anak dengan seragam putihnya berlari-lari mengejar waktu ke sekolah karena takut terlambat.

Aku sedikit legah karena waktu berangkat sekolahku pukul 12:00 siang. Terlebih lagi hari ini adalah hari pertama sekolah, karena baru masuk ke sekolah menengah pertama (SMP).

Aku terus memandang keluar sana tiba-tiba terdengar suara…

“Sophy,,,Sophy, ayo bangun”. Kedengarannya ibu sedang memanggilku.

“Iya Bu”. Sahutku.

“Kamu sudah bangun ya,  cepat keluar dari kamarmu dan tolong bantu ibumu di dapur”.

Mendengar panggilan ibu langsung saja aku keluar dari kamarku. Seperti yang dikatakan ketika aku di panggil Sophy. Sebab, orang tuaku mengambil nama itu karena terinspirasi dari istilah para filsuf yunani yang berarti ‘kebijaksanaan’. Mungkin karena mereka ingin aku menjadi anak yang bijak atau dalam artian selalu belajar berbuat kebaikan dalam kehidupan ini.

“ Ibu lagi buat apa hari ini….?”. Sapaanku ketika ke dapur.

“ Lagi masak nasi goreng kesukaanmu Sophy. hari ini kamu sekolah juga kan Sophy?”. tanya ibuku.

“ Iya bu, tapi Sophy hari ini lagi malas ke sekolah ni”. Jawabku perlahan.

“ Loh,,kenapa,,?, kamu harus semangat Sophy. Lagi pula ini, hari pertamamu masuk sekolah menengah pertama (SMP), dan  ini demi masa depanmu”. Ujar ibu.

“ Kalu gitu nanti siapkan bekal untuku kesekolah ya,,,bu ”. Pintaku pada ibu.

“ Iya ini ibu masaknya banyak, nnti ibu siapkan buat bekalmu di sekolah, yang penting kamu terus    belajar menjadi anak yang cerdas dan baik. Makanya kamu jangan malas sekolah ya…”.

“ Iya,,iya ibu kalau begitu”.

Ketika sedang bercakap-cakap dengan ibu, aku juga langsung membantunya mencuci piring kotor dan membersihkan rumah. Sampai-sampai tidak terasa berjalannya waktu. Sehingga ketika melihat jam di dinding menunjukan pukul 11 : 25 yang sebentar lagi aku akan berangkat ke sekolah. Tanpa basi-basi aku  menuju kamar mandi dan mempersiapkan diri agar tidak terlambat.

“ Sophy,,, hari ini kamu sekolah kan, ayo pergi nak”. Teriak ibuku mengingatkanku untuk bersiap ke sekolah.

“ Iya,,,ini baru habis mandi bu”. jawabku.

“ Cepat jangan sampai terlambat, sebentar lagi ayahmu pulang dan nanti juga akan mengantarmu ke sekolah. Ujar ibu.

Dalam persiapan ke sekolah sambil dengan mengemas barang-barang di ranselku yang perlu dibawa berupa buku-buku dan peralatan menulis lainya. Tiba- tiba terdengar suara mesin motor yang sedang mampir di depan rumahku dan ternyata itu adalah ayahku datang untuk mengantarku ke sekolah.

“ Sophy,,,Sophy hari ini kamu sekolah kan”. Suara ayah memanggilku yang sedang menungguku di depan rumah.

“ Iya ayah, ini Sophy sudah siap berangkat lo”. Jawabku tersenyum sambil berlari keluar rumah.

“ Tunggu nak, jangan lupa bekalmu ini, ibu sudah siapkan untukmu kan”. Ujar ibu mengingatkan bekalku untuk di bawa. Dan akupun langsung saja menuju pada ayah.

“ Kalau gitu ayo kita pergi nak, jangan sampai terlambat dihari pertamamu ini ”. Ujar ayah.

Ketika persiapan sudah selesai, kami pun berangkat menuju sekolahku. Dalam perjalanan aku melihat ada seorang anak laki-laki mengenakan seragam sekolah sama sepertiku, anehnya ia berjalan agak cepat seakan sedang terburu-buru.

Sesampainya di sekolah akupun berlarian masuk ke kelasku. Untung saja belum terlambat, langsung saja aku mengambil tempat duduku dan belum lama itu guruku datang dan memulai pelajaran. Ketika aktivitas belajar telah berlangsung lama tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.

“ Assalamuallaikum, maaf saya terlambat”. Kata seorang anak laki yang baru datang dengan wajah yang murung seakan bersalah.

“ Walaikum sallam”. Jawab kami dengan agak keheranan sekaligus guruku  langsung bertanya.

“ Kenapa kamu baru datang. Kamu tau kalau telah terlambat?”. Tanya guruku.

“ Maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulangi lagi”. Jawab anak laki-laki itu dengan wajah murung.

“ Kalau begitu ambil tempat dudukmu dan jangan ulangi lagi besok”. Tegur guruku.

Dengan wajah lesuhnya, anak itu pun mulai menyesuaikan aktivitas belajar. Ketika dia mengambil tempat duduknya, aku menatapnya seakan pernah melihatnya. Ternyata dia adalah anak laki-laki yang aku lihat saat perjalanan dengan ayah ke sekolah tadi.

Agak aneh ketika melihat seragam yang ia pakai itu begitu kusut dan kotor, sungguh sangat membingungkan.  Atau mungkin ini hari pertama sehingga banyak anak-anak yang merasa canggung dan tak sempat membuat persiapan dengan seragam mereka.

Waktu terus berlalu sehingga aktivitas belajar pun akan segera berakhir, walaupun hari pertama ini diikuti dengan masa perkenalan, sebab semua siswa banyak yang  belum saling kenal. Suara bel pun berbunyi menandakan aktivitas belajar berakhir, dan ketika keluar dari kelas ternyata ayahku sudah menunggu di depan sekolah menjeputku.

“ Sophy,,, ayah di sini, ayo kita pulang”.

“ Iya ayah, ternyata ayah sudah menunggu yah,,,”. Jawabku sambil tersenyum.

“ iyalah masa ayah membiarkanmu pulang dengan berjalan yang cukup jauh. Bagaiamana hari pertamamu tadi, lancar-lancar saja kan?”. Tanya ayah dengan keadaan hari pertama di kelas tadi.

“Alhamdulillah lancar saja ayah, walaupun masih ada rasa canggung. Mumpung karena masih baru”. Jawabku pada ayah.

Setelah bertemu ayah saat menjeputku, langsung saja kami bergegas untuk pulang. Tapi ketika dalam perjalanan menuju rumah, aku melihat anak laki-laki yang sama waktu di kelas tadi sedang berjalan di atas trotoar jalan. Sungguh aku merasa dia adalah anak yang sedikit aneh dari teman sekelasku, dan ketika sesampainya di rumahku terlihat ibu sedang menunggu.

“ Eh,,,sudah pulang yah, bagaimana hari pertamamu di sekolah tadi Sophy?”. Sapaan ibu dan langsung bertanya keadaanku di sekolah ketika kami datang.

“ Alhamdullih baik-baik saja bu, lagi pula hari ini ayah juga menjemputku” jawabku.

“ kalau gitu cepat masuk, ibu sudah menyiapkan makananmu dengan ayah juga sana”. Jawab ibuku.

“ Wah, asyik tuh kebetulan ayah lapar ni. Dan kamu Sophy jangan lupa buat pekerjaan rumah jika ada”. Jawab ayahku dengan agak gembira.

“ Belum ayah, tadi baru perkenalan saja di kelas”. Jawabku pada ayah.

“ yah,,sudah kalau gitu nanti ceritakan pada ayah dan ibu dihari pertamamu di sekolah tadi”. Pinta ayah padaku.

Ketika usai bercakap dengan ayah dan ibu, kami pun menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh ibu. Pada saat malam tiba aku pun bercerita dihari pertama sekolah tadi. Akupun bercerita tentang anak laki-laki yang aneh itu. Sehingga tak terasa malam semakin larut.

“ Ya,,,sudah Sophy ini sudah larut malam kayaknya kamu sudah boleh untuk istrahat”. Pinta ibuku.

“ Iya Sophy sebaiknya kamu istrahat, agar bisa bangun lebih cepat karena jangan sampai kamu terlambat ke sekolah”. Sambung ayahku mengingatkan.

“ Baiklah, kalau begitu Sophy istrahat dulu yah”. Sahutku dengan wajah yang sudah ngantuk.

Usai sudah percakapan yang semakin larut itu, setelah memutuskan untuk tidur lebih awal. Dan ketika pagi menjeput lagi, seperti biasa aku selalu berdiri di balik jendela kamarku melihat keluar sana dan membantu ibu dalam pekerjaan rumah sampai waktu berangkat sekolah tiba.

Ketika ayahku pulang beliau mengantarku ke sekolah tapi, dalam perjalanan ke sekolah aku melihat anak laki-laki itu lagi yang juga teman kelasku sedang berjalan terburu-buru menuju sekolah. Sesampai di sekolah akupun menuju kelas akan tetapi anak itu belum sampai ketika aktivitas belajar sudah dimulai.

Akativitas belajar sudah berlangsung lama tiba-tiba aku melihat anak itu telah masuk ke kelas.

“ Assalamuallaikum, maaf saya terlambat ”. Dengan wajah yang lesuh ia mengucapkan salam.

“ Hari ini kamu terlambat lagi, sebaiknya harus dihukum kali ini agar tidak terlambat lagi nanti”. Jawab guruku yang mulai resah dengan keterlambatan anak laki-laki itu.

Langsung saja guruku menghukumnya dengan menyuruh anak itu berdiri di depan kelas sambil memegang kedua telinganya. Dan guruku meneruskan proses belajar mengajar dengan menanyakan apa impian kami di masa depan.

“ Baik, hari ini saya ingin tahu apa impian kalian di masa depan”. Kata guruku.

Setelah bertanya kepada teman-teman kelasku, tak lama kemudian giliriranku ditanya oleh guruku.

“ Sophy apa impianmu di masa depan”. Tanya guruku padaku.

“ Entahlah, saya belum memikirkan itu”. jawabku dengan penuh kebingungan.

“ Bagaimana bisa gitu, kamu harus punya impianmu sendiri”. Pinta guruku.

“ Nah sekarang kalau kamu Benny, apa impianmu di masa depan”. Tanya guruku lagi ke anak laki-laki yang masih berdiri dan memegang telinganya di depan kelas.

“ Oh, namanya Benny”. Kataku dalam hati karena baru tau nama anak laki-laki itu.

“  Kalau aku cuman ingin berguna untuk orang lain saja”. Jawab Benny si anak laki-laki itu.

Ketika usai tanya jawab tentang impian kami, suara lonceng bel sekolah pun berbunyi. Berakhir sudah aktivitas di kelas kami, tapi aku merasa kasihan pada Benny ia berdiri di depan sampai jam belajar selesai. ketika keluar dari kelas aku mencoba mendekati Benny karena penasaran dengan keanehannya.

“ Hei, Benny”. Sapaku pada anak laki-laki itu.

“ Iya ada apa”. Sahutnya dengan wajah murung seperti biasa.

“ Kenapa kamu sering terlambat dan seragammu juga selalu kusut, apa ibumu tak setrika untukmu yah”. Tanyaku yang berlebihan pada Benny dan merasa aneh melihat seragamnya yang kusut nan kotor.

“  Ibu dan ayahku sudah meninggal, aku hanya tinggal dengan adik dan neneku, dan nenek sudah terlalu tua untuk mengurusku. Dengan menyekolahkanku saja aku sudah bersukur. Mohon maaf aku harus pergi”. Jawab Benny dengan wajah yang seakan tak suka ditanya-tanya.

Tiba-tiba ayahku sudah menjeputku, dan Benny setiap harinya terlambat dan dihukum seperti biasa dengan seragam kusut yang ia kenakan. Sampai pada akhir semester kami.

Suatu ketika dalam ujian akhir semester ayahku lupa menjeputku, lamanya menunggu aku melihat Benny berjalan sendiri dan akupun mengikutinya dari belakang sampai ke rumahnya. Dan ketika aku berdiri di depan rumahnya ayahku datang dan memarahiku sebab tidak menunggunya jemputannya dan langsung membawaku pulang. Ketika hari esok tiba, dalam perjalanan ke sekolah aku meminta ayah berhenti di depan rumah Benny sebentar.

Lalu, yang kulihat Benny berdiri di depan rumahnya sudah memakai celana seragam, tapi tanpa kamejanya, tiba-tiba seoarang anak lelaki muncul dan melepaskan kameja yang ia kenakan dan memberikan pada Benny. Ternyata Benny dan adiknya bergantian memakai seragam pantas saja selalu kotor dan kusut, terlebih keterlambatanya ke sekolah karena menunggu adiknya pulang dulu karena menunggu seragamnya.

“ Kamu Lihat apa Sophy, ayo kita ke sekolah nanti terlambat kamu”. Tanya ayah penasaran.

“ Tidak ayah, ini adalah rumah teman sekelasku dia sering terlambat ke sekolah dan seragamnya kusut juga kotor setiap hari, ternyata dia bergantian memakai seragam dengan adiknya”. Jawabku dengan air mata yang mengalir ke pipiku.

“ Apa yang kamu katakan Sophy apa orang tuanya  tidak membelikan mereka seragam masing-masing yah”. Tanya ayah dengan penuh keheranan.

“ Bukan, ayah dia anak yatim piatu dan neneknya yang mengurus dia dan adiknya, lihat saja rumahnya kumuh sampai-sampai hampir rubuh itu. mereka orang susah ayah”. Jawabku nada sedih.

Ketika itu ayahku langsung mengantarku ke sekolah lalu beliau mengatakan bahwa kita harus menyayangi anak yatim piatu maupun fakir miskin.

Sesampainya di sekolah aku masih melihat Benny terlambat dan mengenakan seragam kusut dan kotornya itu, ia setiap harinya selalu seperti itu. sampai suatu ketika,  hari terakhir ujian semester kenaikan kelas, aku tak melihat Benny di ruangan ujian dan teman-temanku juga tidak melihatnya.

Dan saat kami berada di ruangan ujian, tiba-tiba guruku datang dan memberikan pengumuman bahwa Benny telah meninggal dunia karena diberikan racun oleh neneknya.

Sebuah fakta yang kami dapatkan dari pihak kepolisian ketika berkunjung di rumah Benny, ternyata kejadian tragis itu terjadi karena nenek Benny yang menjadi tulang punggung keluarganya sudah tidak lagi mampu menafkahi mereka, dalam arti tidak bisa melihat cucunya yakni Benny dan adiknya terus hidup dalam kemiskinan dan bahkan untuk makan sehari-hari saja sudah sangat sulit, ditambah lagi biaya sekolah yang sangat mahal saat ini.

Sehingga, seorang nenek yang tidak mau lagi melihat cucunya menderita dengan seragam kusut, kotor dan bau itu  agar tidak lagi dipakai cucunya maka, Benny dan adiknya harus diberikan racun mematikan sejenis potas  yang dicampurkan nenek ke dalam makanan tanpa sepengetahuan Benny dan adiknya saat sang nenek menyiapkan makan malam untuk mereka.

Ketika nenek melihat cucunya sudah menyatap makanan itu dan beberapa menit kemudian Benny dan adiknya tergeletak di lantai. Setelah melihat hal itu dengan air mata yang mengalir ke pipi sang nenek, kemudian menyantap juga makanan yang telah dicampuri racun itu, sehingga sang nenek pun ikut mati dengan ke dua cucunya.

Sungguh sebuah fakta dari pihak kepolisian ini membuatku merenungkan kembali dengan kehidupanku saat ini. Aku berfikir bahwa masih banyak orang susah, yatim piatu dan masih banyak orang-orang terlantar. Sehingga teringat dengan pesan orang tuaku ketika berharap bahwa aku harus sekolah agar bisa menjadi anak yang baik. Dan bagaimana bisa aku menjadi anak yang baik ketika tidak pernah sedikitpun membantu orang yang sedang susah.

Waktu di kelas guruku bertanya soal impian, saat ini dan seterusnya aku hanya ingin membuat panti asuhan besar untuk menampung anak yatim piatu maupun fakir miskin lainnya sebagai impianku, agar aku tidak lagi melihat seseorang mengakhiri kedupan karena kemiskinan dan tidak lagi memakai seragam kusut di depan mataku, dengan mencintai semua pekerjaan apa saja asalkan tujuannya demi kaum tertindas.

Aku hanya berfikir ini tujuan aku di sekolahkan, yakni untuk kemanusiaan dan bukan menjadi manusia karir yang hanya mengarah pada pasar tenaga kerja. Sampai saat itu akupun terus teringat dengan seragam kusut yang sering dipakai Benny, seakan jadi suatu simbol kemiskinan.(***)

suaramu.co
Media Online Maluku Utara
https://www.suaramu.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *