Kampus dan Masa Depan

(catatan penting bagi para pendidik dan terdidik)

Oleh : Ibrahim Yakub,
HMI Cabang Ternate.

Peran Kampus

Bukan hal yang baru lagi ketika kita mendengar lembaga pendidikan tinggi yang menjadi gerbang terakhir mahasiswa memasuki dunia nyata. Saat ini mendapat sorotan serta wacana dari para mahasiswa, pemuda dan kalangan masyarakat. Sebab Perguruan Tinggi dianggap sebagai instrumen bagi lahirnya manusia-manusia berkualitas yang dapat muncul dari mana saja untuk mengaktualisasikan potensi berkesinambungan yang dimiliki oleh setiap manusia.
Dalam lembaga pendidikan ini yang nantinya juga mereka mengalami kedewasaan personal yang tinggi, ada pula periode dilembaga pendidikan inilah mahasiswa akan mulai membentuk profesionalisme keilmuan serta pencarian jati diri. Disini juga akan terbentuk watak indenpedensi bahkan akan juga terdapat jiwa pragmatisme.
Perguruan Tinggi menjadi pintu gerbang bagi warga terdidik untuk memasuki dunia nyata disamping itu pedoman yang sering digunakan dalam perguruan tinggi adalah tridharma-nya yakni (pendidikan, penelitian, dan pengabdian) tujuan dari pada ini adalah melahirkan mahasiswa yang tercerahkan/ manusia sempurna. Namun kenyataan membuktikan tidak selalu demikian karena belakangan ini yang lahir dikampus justru intelektual yang mengalami disorientasi hidup, lulusan perguruan tinggi pada dekade ini cenderung tidak berkualitas serta pengetahuan dan skillnya rendah.
Disinyalir, akibat ketidak mampuan kampus mengelola dirinya sehingga kualitas anak didiknya terabaikan serta determinan faktor dalam prguruan tinggi saat ini hanya melihat berapa banyak jumlah sarjana yang lulus di masing-masing perguruan tinggi bukan seberapa meningkatnya kualitas kesarjanaan yang diproduk. Kegagalan melahirkan mahasiswa yang berimani,berilmu, serta bertanggung jawab dicurigai juga akibat dari pola pengajaran yang terlalu orientasi pada sebuah teoritis Ironisnya juga kesuksesan ditentukan secara sempit di ukur melalui “IPK” saja. Sehingga, potensi mahasiswa sebagai manusia ideal terabaikan dan bakat minat termatikan.

Fenomena kampus
Potret juga perguruan tinggi yang saat ini kita semua berada didalamnya barangkat dari sebuah pengamatan banyak terjadi dilapangan yakni, mahasiswa dipenjara dari teori ke teori lain, dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah lain, tanpa mengajak kita untuk merasakan realitas sosial yang sesungguhnya. Mahasiswa diajari budaya instan. Bukannya diajari memahami secara utuh tujuan pendidikan dan hakikat keberadaan dirinya di muka bumi, namun se baliknya mahasiswa justru didorong cepat-cepat selesai kuliah. Mahasiswa diarahkan menjadi “mesin bagi tuannya, memenuhi pasar-pasar tenaga kerja, dengan berbagai pilihan besarnya gaji. Akibatnya, jauh dibawah alam sadar mahasiswa, sudah tertanam dan menjadi tradisi dalam paradigma mahasiswa bahwa uang (materi) menjadi satu-satunya tujuan dalam jangka panjang tanpa disadari kampus menjadi suntikan utama koruptor dinegeri ini.
Adapun masalah dalam kampus yang juga harus dipertanyakan mengenai sebagian dosen yang mengalami gejala penyakit yang serupa. Kejadian nyata bahwa sebagian dosen tidak layak kita sebut mereka sebagai guru karena pikirannya hanya mengarah pada cara cepat menjadi profesor, memperoleh jabatan, serta pendapatan yang besar. Fokus mereka hanya pada diri dan keluarganya, dengan menafikan perbaikan kondisi mahasiswa dan masyarakat diluar kehidupan kampus.

Solusi
Dari pernyataan fakta diatas penting kiranya untuk kita merubah pardigma pendidikan yang mengarah pada pragmatisme, hedonisme, serta materialisme yang menggeserkan tridharma perguruan tinggi sebagai acuan generasi muda terdidik atau mahasiswa ke arah yang lebih baik dengan cara kita harus mengembalikan setidaknya tiga tujuan pendidikan yaitu:

1). Mengharuskan setiap lembaga pendidikan memfasilitasi mahasiswa untuk “memahami ilmunya, 2). Memperdalam kompetensi bidang ilmu, 3). Kebebasan mahasiswa dalam mengembangkan keahlian interpersonal. Dengan pengetahuan serta keahlian inilah diharapkan mahasiswa agar peduli dengan realitas masyarakat serta terlibat dalam transformasi social serta kampus harus lebih mengutamakan kualitas kesarjanaan dibandingkan dengan lebih mengejar kuantitas kesarjanaan dalam hal mengejar popularitas dari perguruan tinggi tersebut sebab peradaban yang terakhir adalah dunia perguruan tinggi maka mampu tidaknya mahasiswa berafiliasi didunia berpaska mahasiswa selain bergantung dari pada lingkungan keluarga, negara dan perguruan tinggi juga menjadi titik tekan dalam menciptakan manusia yang ideal.***

suaramu.co
Media Online Maluku Utara
https://www.suaramu.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *